Transparent Sexy Pink Heart

Panda

Rabu, 12 Oktober 2016

Tugas 1 Pengantar Bisnis : "Membangun Karakter Building Untuk Menjadi Wirausaha Sukses"



Setiap manusia yang telah terlahir ke dunia pada dasarnya telah sukses. Pernyataan ini mungkin telah sering sekali kita dengar. Semua memang adalah rahasia Allah mengapa memilih kita untuk hadir ke dunia ini. Namun teori ilmiah mengatakan bahwa seorang insan terlahir karena telah mengalahkan jutaan bahkan milyaran sel sperma yang lain hingga terbentuklah embrio yakni kita saat ini. Karena anda begitu istimewa, jadilah bagian dari keistimewaan itu. Karena anda telah sukses terlahir, maka jadilah bagian dari kesuskesan itu. Salah satunya yakni dengan memiliki mental sukses. Karena banyak sekali orang yang mengatakan, menginginkan dan bercita-cita untuk menjadi orang sukses, sementara dia tidak pernah membiasakan dirinya untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan sukses. Dan sesungguhnya kebiasaan sukses tersebut adalah hal-hal yang sangat simple namun banyak orang yang menganggapnya sebagai hal yang sepele. Salah satunya adalah sikap disiplin. Banyak orang yang ingin sukses, namun tidak pernah disiplin waktu.
1. Pengertian Membangun Karakter (Character Building)

 Dari segi bahasa, membangun karakter (Character building)  terdiri dari dua kata yakni Membangun (to buid) dan karakter (character). Adapun artinya "Membangun" berssifat memperbaiki, membina, mendirikan, mengadakan sesuatu. Sedangkan "Karakter" adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dalam konteks disini adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak mulia, insan manusia sehingga menunjukan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa membangun karakter akan menggambarkan hal-hal pokok sebagai berikut;
  1. Merupakan suatu proses yang terus menerus di lakukan untuk membentuk, tabiat, watak, dan sifat-sifat kejiwaan yang berlandaskan kepada semangat pengabdian dan kebersamaan.
  2. Menyempurnkan karakter yang ada untuk terwujudnya karakter yang diharapkan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.
  3. Membina karakter yang ada sehingga menampilkan karakter yang kondusif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilandasi dengan nilai - nilai falsafah Pancasila.
Membangun karakter bangsa  pada hakikatnya adalah agar suatu bangsa atau masyarakat memiliki sebgai berikut;
  1. Adanya saling menghormati dan saling menghargai diantara sesama;
  2. adanya rasa kebersamaan dan tolong menolong;
  3. Adanya rasa persatuan dan kesatuan sebagaisuatu bangsa;
  4. Adanya rasa peduli dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;
  5. Adanya moral , akhlak yang dilandaskan pada nilai-nilai agama;
  6. Adanya perilaku dan sifat-sifat kejiwaan yang saling menghormati dan menguntungkan;
  7. adanya kelakuan dan tingkah laku yang senantiasa menggambarkan nilai-nilai agama, nilai-nilai hukum dan nilai-nilai budaya;
  8. Sikap dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebangsaan.
Berkaitandengan hal itu, maka atas karakter suatu bangsa/masyarakat pada dasarnya dapat dikenali pada dua sifat, yaitu;
  1. Karakter yang bersifat positif, yakni suatu tabiat, watak yang menunjukan nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat, bengbangsa dan bernegara.
  2. Karakter yang bersifat negatif, yakni tabiat, watak yang menunjukan nilai-nilai negatif terhadap kehidupann bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2. Faktor-Faktor Membangun Karakter

Karakter sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan berorganisasi, baik organisai pemmerintahan maupun organisasi swadaya/usaha dan lain sebagainya. Dapat dikatakan bahwa karakter manusia Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan kunci yang sangat penting untuk mewujudkan cita-cita perjuangan guna terwjudnya masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila.

Dikatakan penting karena karakter mempunyai makna atau nilai yang sangat mendasar untuk mempengaruhi segenap pikiran, tindakan dan perbuatan setiap insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai yang dimaksud adalah;
  • Kejuangan;
  • Semangat;
  • Kebersamaan atau Gotong royong;
  • Kepedulian atau solider;
  • sopan santun;
  • Persatuan dan kesatuan;
  • Kekeluargaan;
  • Tanggung Jawab.
Nilai-nilai seperti ini tampaknya cenderung semakin luntur dalam kehidupan berbangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat secara jelas bahwa misalnya berbagai kasus konflik sosial dan komunal yang marak terjadi di berbagai daerah dengan penyebab yang sepele. Konflik horizontal antar etnik atau konflik yang membawa issue SARA yang mencerminkan ketidakkukuhan nilai-nilai kebangsaan di masyarakat. Seandainya kekukuhan nilai, senantiasa terwujud dalam kehidupan setiap insan manusia Indonesia, maka konflik yang banyak merenggut itu tentu tidak akan terjadi.

Selain itu keironian yang terjadi hari ini adalah kaum yang terpelajar pun sedang marak terjadi tawuran baik itu dikalangan pelajar maupun dikalangan mahasiswa yang tidak sedikit merenggut nyawa disesama mereka dan terus merembes kekehidupan masayarakat kita. Bulan sekarang sedang ramainya dengan "Geng Motor" yang makin hari makin tak terkendali penyebaran dan kriminalitas yang ditimbulkannya, dengan rata - rata angggotanya adalah para remaja dan pemuda yang seharusnya diharapkan memiliki karakter terdidik dan jiwa kepemimpinan dalam hal yang baik untuk kemajuan dirinya dan bangsanya. Meihat pada kejadian-kejadian tersebut nampaknya wawasan kebangsaan sudah tidak menjiwai watak manusia Indonesia sebagiannya yang mana pada saat itu masyarakat kita dikenal dengan kesantunan dan keramah tamahan serta penuh toleransi, saling menghormati di dalam kemajemukan masing-masing dan hidup secara bergotong royong.

Mengiingat karakter suatu masyarakat, bangsa dan negara mempunyai nilai dan makna yang sangat strategis, maka faktor-faktor yang perlu dan senantia diperhatiakan antara lain;
  1. Ideologi;
  2. Politik;
  3. Ekonomi;
  4. Sosial Budaya;
  5. Agama;
  6. Normatif (Hukum dan peraturan perundangan);
  7. Pendidikan;
  8. Lingkungan;
  9. Kepemimpinan.

Profil Wirausaha Sukses





Pertengahan 2010, nama Dimas Ginanjar Merdeka mulai dikenal banyak orang. Bob Merdeka, sapaan akrabnya, mendirikan Maicih, brand keripik pedas yang jadi pelopor makanan ringan pedas di Bandung, Jawa Barat. Tak membutuhkan waktu lama, keripik pedas Maicih milik Bob Merdeka ini terpilih menjadi The Hot Snack 2011 oleh majalah Rolling Stone Indonesia.
Awalnya, Bob Merdeka tidak punya strategi khusus pada saat memulai usaha ini. Fokusnya hanya menjual keripik pedas seunik dan sekreatif mungkin. Keripik singkong pedas yang jadi makanan favorit masa kecilnya pun, ia sulap menjadi produk berkelas yang siap bersaing dengan produk lainnya. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan media sosial.
Keripik pedas Maicih dilambangkan oleh sosok nenek ramah yang bersahaja. Ia mulai dikenal banyak orang lewat media sosial Twitter dengan akun @maicih. Bob Merdeka memang mengandalkan Twitter untuk mempromosikan keripik pedas Maicih-nya. Lewat tagar #maicih yang begitu popular di microsite ini, distribusi dan promosi pun dilakukan. Akun @maicih yang resmi dibuat bulan Oktober 2010 ini kemudian mengukuhkan konsep jualan keripik pedas ini. Sukses bergerilya jualan via Twitter, kini keripik pedas Maicih sudah bisa dinikmati semua penggemarnya di seluruh Indonesia.

Minggu, 09 Oktober 2016

ETIKA PROFESI AKUNTANSI : ETIKA SEBAGAI TINJAUAN


1.      PENGERTIAN ETIKA
Etika (Yunani Kuno: “ethikos” , berarti “timbul dari kebiasaan”) adalah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standard an penelitian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang sebenernya dilakukan oleh manusia

2.      PRINSIP ETIKA
Dalam peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum masehi, para pemikir telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup masyarakat. Para pemikir itu telah mengidentifikasi setidaknya terdapat ratusan macam ide agung (great ideas). Seluruh gagasan atau ide agung tersenit dapatr diringkas menjadi enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran.
·         Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang dan lain-lain.
·         Prinsip persamaaan
Setiap manusia pada hakikatnya memililki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbadai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskriminatif atas dasar apapun.
·         Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti saling menghormati, kasih saying, membantu orang lain, dan lain-lain.
·         Prinsip Keadilan
Kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang atas apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain
·         Prinsip Kebebasan
Sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain.
·         Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat.

3.      BASIS TEORI ETIKA
·          Etika Teleologi
Dari kata Yunani, Telos= tujuan, mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Dua aliran etika teleologi, yaitu Egoisme Etis dan Utilitarianisme.
·         Deontologi
Istilah deontology berasal dari kata Yunani, Deon yang berarti kewajiban. “Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk?”, deontology menjawab “karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dank arena perbuatan keduan dilarang”. Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban.
·         Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah hak pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku.
·         Teori Keutamaan (Virtue)
Memandang sikap atau akhlak seseorang, tidak apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya.

·         Egoisme
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan hanya untuk menguntungkan diri sendiri.

4.      EGOISM
Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoism berarti menempatkan diri ditengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat.

Sabtu, 28 Mei 2016

Transitive and Intransitive Sentences

Nama : Anis Tianingsih
NPM : 21213065
Class : 3EB13



Transitive Sentences: 
  1.   Ida is reading a magazine yesterday
  2. Yoga is bought television last month 
  3.  Mia is making a cake in my house
  4. My mother sending one letter to Jakarta
  5. I have written my homework in the morning

Explanation:

                Sentence in number one is a transitive sentence which consists of five elements, Ida, Is, reading, a magazine, yesterday. The indentifications are Subject (Ida), Predicate (is reading), Object (a magazine), and modifier of time (yesterday). Them Ida is noun (N), is reading (V1), a magazine (O), and yesterday (adv of time). All of these are not phrase however reading a magazine in number one is a phrase. Which It’s head is magazine.

                Sentence in number two is a transitive sentence which consists of five elements, Yoga, Is, bought, television, last month. The indentifications are Subject (Yoga), Predicate (is bought), Object (television), and modifier of time (last month). Them Yoga is noun (N), is bought (V1), television (O), and last month (adv of time). All of these are not phrase however bought television in number two is a phrase. Which It’s head is television.

                Sentence in number three is a transitive sentence which consists of five elements, Mia, Is, making, a cake, in my house. The indentifications are Subject (Mia), Predicate (is making), Object (a cake), and modifier of place ( in my house). Them Mia is noun (N), is making (V1), a cake (O), and in my house (adv of place). All of these are not phrase however making a cake in number three is a phrase. Which It’s head is cake.

                Sentence in number four is a transitive sentence which consists of four elements, My Mother, sending, one letter, to Jakarta. The indentifications are Subject (My mother), Predicate (sending), Object (one letter), and modifier of place (to Jakarta). Them My mother is noun (N), sending (V1), one letter (O), and to Jakarta (adv of place). All of these are not phrase however sending one letter in number four is a phrase. Which It’s head is letter.

                Sentence in number five is a transitive sentence which consists of five elements, I, have, written, my homework, in the morning. The indentifications are Subject (I), Predicate (written), Object (my homework), and modifier of time (in the morning). Them I have is noun (N), written (V1), my homework (O), and in the morning (adv of time). All of these are not phrase however written my homework in number five is a phrase. Which It’s head is my homework.



Intransitive sentence: 

  1.  My mother is working in Kemendag
  2. I shall go to Yogyajakarta tomorrow
  3. Lia is watching a movie in cinema XXI
  4. Maria is came to my house to night
  5. Juno is sleeping in the class

Explanation:

                Sentence in number one is intransitive sentence which consists of four elements, My mother, is, working, in Kemendag. The indentifications are Subject (My mother), Predicate (is working), and modifier of place (in Kemendag). Them my mother is noun (N), is working (V1), and in Kemendag (adv of place). All of these are not phrase however is working in number one is a phrase. Which it’s head is working.

                Sentence in number two is intransitive sentence which consists of six elements, I, shall, go, to, yogyajakarta, tomorrow. The indentifications are Subject (I), Predicate (go), and modifier of place and time (to Yogyajakarta tomorrow). Them I shall is noun (N), go (V1), and to Yogyajakarta tomorrow (adv of place and time). All of these are not phrase however go to Yogyajakarta is number two is a phrase. Which it’s head is go.

                Sentence is number three is intransitive sentence which consists of five elements. Lia, is, watching, a move, in cinema XXI. The indentifications are Subject (Lia), Predicate (is watching), Object (a movie), and modifier of place (in cinema XXI). Them Lia is noun (N), is watching (V1), a movie (O), and in cinema XXI (adv of place). All of these are not phrase however is watching a movie is number three is a phrase. Which it’s head is watching.

                Sentence is number four is intransitive sentence which consists of six elements. Maria, is, came, to, my house, to night. The indentifications are Subject (Maria), Predicate (is came), and modifier of place and time (my house to night). Them Maria is noun (N), is came (V1), to my house to night (adv of place and time). All of these are not phrase however is came my house to night is number four is a phrase. Which it’s head came.

                Sentence is number five is intransitive sentence which consists of four elements. Juno, is, sleeping, in the class. The Indentifications are Subject (Juno), Predicate (is sleeping), and modifier of the place (in the class). Them Juno is noun (N), is sleeping (V1), in the class (adv of place). All of these are not phrase however is sleeping in the class is number five is a phrase. Which it’s head sleeping.